Sabtu, 06 Juni 2015

Bakteri Non Fotosintetik



Yersinia Pestis Berbentuk Penyakit Hitam (Black Death)

Apakah bakteri Yersinia Pestis itu?

      Yersinia pestis adalah bakteri yang menyebabkan gangguan. termasuk bakteri Gram-negatif yang dapat tumbuh dengan atau tanpa oksigen. Yersinia Pestis sebelumnya telah diklasifikasikan dalam keluarga Pasteurellaceae, Namun berdasarkan kesamaan dengan Escherichia coli (E. coli), maka Yersinia termasuk dalam keluarga Enterobacteriaceae.

Klasifikasi Ilmiah

Domain           : Bakteri
Phylum            : Proteobacteria
Ordo                : Enterobacterials
Famili              : Enterobacteriacheae
Genus              : Yersinia
Spesies            : Yersinia Pestis

Morfologi dan Habitatnya, Bakteri Yersinia pestis merupakan bakteri gram negatif yang dapat tumbuh dengan atau tanpa oksigen, dengan bentuk bipolar yang mencolok dengan pewarnaan khusus. Organisme ini tumbuh sebagai anaerob fakultatif, pertumbuhan bakteri ini lebih cepat bila berada pada media yang mengandung darah atau cairan jaringan bagian dalam dengan suhu cairan 300oC. sedangkan pada kultur darah suhunya 370oC.
Bakteri ini menyebabkan penyakit yang menular dan dapat mengakibatkan kematian disebut juga sebagai penyakit pes (Marisa, 20017). Pes merupakan salah satu penyakit yang hebat dan sangat menular dengan angka kematian yang tinggi yang ditularkan lewat tikus (yang digigit pinjal yang terinfeksi). Pes disebut juga sebagai black death karena salah satu gejala penyakit ini adalah kehitaman pada ujung-ujung jari dan tingkat kematiannya yang tinggi. 

Tahukah kalian kapan bakteri Yersinia Pestis dibutuhkan ? 

Bakteri Yersinia Pestis menghasilkan banyak antigen dan toksin yang dibutuhkan untuk faktor virulensi. Peranannya menghasilkan bakteriosin (pestisin) seperti enzim isositrat liase yang bersifat khusus.

Bagaimana Yersinia Pestis bisa menginfeksi manusia dan menimbulkan black death ?

Yersinia pestis awalnya menginfeksi dan menyebar ke hewan pengerat rumah misalnya tikus. Tikus merupakan reservoir dan pinjal merupakan vector penularnya, se­hingga penularan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan pinjal atau kontak langsung dengan tikus yang terinfeksi bakteri Yersinia pestis (Jawetz, 2005). Pada manusia juga dapat terinfeksi karena gigitan pinjal atau dengan kontak vector. Menurut Profesor Duncan, gejala The Black Death ditandai dengan gejala demam mendadak, nyeri, perdarahan organ dalam, dan efusi darah ke kulit yang menimbulkan bercak-bercak di kulit, khususnya sekitar dada dan ujung- ujung jari. Setelah terinfeksi selama 2- 7 hari maka kulit yang terinfeksi bakteri Yersinia Pestis akan menjadi hitam. Bakteri ini sangat tinggi angka kematiannya hingga 50 %. Sehingga disebut juga black death.

Apa solusi untuk penyakit black death ?

Untuk pengendalian pes dibutuhkan penelitian pada hewan yang terinfeksi, serta semua pasien yang dicurigai menderita pes harus diisolasi, dengan memberikan vaksin protein rekombinan yang terdiri dari Yersinia pestis F1 (protein kapsul) dan antigen V. sejauh ini sangat menjanjikan dalam melindungi hewan terhadap infeksi penyakit pes. Berdasarkan penelitian Sitti chodijah dkk, melalui partisipasi masyarakat diharapkan juga dapat meningkatkan jumlah tikus yang tertangkap. Dalam pemasangan alat trapping (live trap), Ibu merupakan anggota ke­luarga yang dianggap mengerti kondisi rumah, karena ibu yang biasa membersihkan rumah, sehingga mengetahui tanda keberadaan tikus (jejak tikus, kotoran tikus, jalan tikus, bekas gigitan tikus, dan bau khas tikus) dan dapat meletakkan trap sesuai tempatnya (Dwi S, 2008 dan Ikawati, 2010). Oleh karena itu, untuk meminimalisasi kasus pes, perlu usaha masyarakat juga dalam menjaga sanitasi dan higienitas lingkungannya.

Daftar Pustaka

   Marisa, Dolhnikoff. 2007. Pathology and Patho­physiology of Pulmonary Manifestations In Leptospirosis.    The Brazilian Journal of Infec­tious Disease, 11(1): 142-148
Jawetz, Melnick dan Adelbergs. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Salemba Medika
Sub Direktorat Zoonosis. 2000. Pedoman Penang­gulangan Pes di Indonesia. Jakarta: Departe­men Kesehatan RI.
     Uwe, Grob and Kerstin, Wydra. 2013. Materal-Child Health. Gottingen International Health Network.    
Niel, R Chamberlain. http://www.atsu.edu/faculty/chamberlain/website/lectures/lecture/plague.htm, Dikutip pada tanggal 4 Juni 2015. 
 Bhisma, Murti. “Sejarah Epidemiologi”. Jounal Institute Of Health Economic And Policy Studies (IHEPS). Tersedia online di www. fk.uns.ac.id/index.php/download/file/62. 
  Sitti Chodijah dkk, 2011. Peningkatan Peranserta Masyarakat Dalam Pelaksanaan Pemberan­tasan Sarang Nyamuk Dbd (Psn-Dbd) Di Dua Kelurahan Di Kota Palu, Sulawesi Ten­gah. Ejournal Litbang Depkes 21(4) 
 Ikawati Bina, Nurjazuli. 2010. Analisis Karakteristik Lingkunagn Pada Kejadian Leptospirosis di Kabupaten Demak Jawa Tengah Tahun 2009. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 9(1): 33 - 40